My Stories …

Just another WordPress.com weblog

If It’s Important, You’ll Find A Way. If It Isn’t, You’ll Find An Excuse

Some people dream of success, others make it happen. Of course, you can dream as much as you like but waiting for things to happen gets you nowhere. Get active and start making things happen.
 
Whatever journey your path takes you on, the most important thing is to have passion in what you do.
 
How many of you went to college, got your degree, and ended up doing something totally unrelated to your major? Studying it did not make you passionate about it. It wasn’t your path.
 
Education or even talent aren’t worth much without passion. So do the stuff that you love and you’ve always wanted to do because without it, you’ll feel stuck and unfulfilled. If you work in a bank but your dream is to be a naturopath, then make those changes now. Make this year the turning point in your life. When you do what you love you will be rewarded — it will just flow naturally.
 
Look at those around you who just make things happen. They have a clear goal in mind and they know where they want to go. They don’t always have a plan but they have the passion and the tenacity to make it work, and they achieve their goals as the end result.
 
Trust us when we tell you this. If something important to you, you WILL find a way. If it isn’t, you’ll find an excuse. It’s that simple. Find your way. Make it work, whatever it takes. Are you 10 kilos heavier than you should be? It is simple: Commit, go to that gym every day, no excuses, and train until you lose those 10  kilos. When you accomplish this, you’ll have the confidence to do more. Set a goal and make it happen.
 
Want to stop smoking? Stop making excuses, take control of your circumstances before they take control of you.
 
Success isn’t just about what you accomplish in your life, it’s about what you inspire others to do and when you do accomplish something as simple as quitting smoking or losing weight, you’ll inspire others to do the same. Anyone can change the world, and everybody should try. And it all starts with your own life.
 
Stop waiting for the perfect time to do what you want to do. Do it now.

Agustus 4, 2011 Posted by | Renungan | 2 Komentar

Pilih: Suami Komuter atau Jobless Sementara?

Saat ini pikiran saya sedang kusut sekusut kusutnya. Entah apa yang terjadi dengan hati dan pikiran saya. Seolah tak mau berkompromi dan bekerjasama. Saya di hadapkan dua pilihan yang mungkin TERBESAR dalam hidup saya di awal Tahun 2011 ini.

Bertahan bekerja di Jakarta namun harus jadi suami “komuter” lantaran istri yang sedang hamil 7 bulan di “transmigrasikan” di Surabaya demi persiapan kelahiran putri pertama saya.

Positifnya:

a. Pikiran saya lebih tenang karena fokus dengan pekerjaan.

b. Istri saya lebih bisa mengurus diri dan jabang bayi dengan kehidupan yang lebih sehat dan minim stress. (Jauh dari kemacetannnn bro pastinya dan juga biaya hidup yang mahal cuii…)

c. Setidaknya, jadi ada yang memperhatikan lebih cermat kondisi kesehatannya karena ada kakak dan orang tuanya yang menemani.

d. Istri dan si jabang bayi jadi bisa menghirup udara lebih bersih ketimbang di Ibukota yang kurang bersahabat ini.

e. Secara financial, saya masih aman. Saya masih menerima gaji bulan, bentar lagi bonus juga keluar, dana kesehatan kantor juga masih bisa menampung medical cost istri saya, nabung untuk persiapan persalinan, masih bisa kirim dana ke istri untuk pegangan dan juga ibu saya…. Singkatnya, kondisi kocek “AMAN”.

f. Jadi sering berdoa, lantaran berharap istri dan si jabang bayi terus dalam kondisi sehat. Meski, saya tidak bisa selalu menemani.

Negatifnya:

a. Saling kangennnn cuiii ama Bini…. Baru bisa ka etemu 2 minggu sekali, dan hanya 3 hari.

b. Secara psikis, nggak bisa menemani istri setiap hari dan terkadang saling merasa kesepian.

c. komunikasi, so far, mengandalkan telepon tiap hari, kirim foto-foto, dan terkadang email/ym.

d. Suka bingung, kalau ketemu orang, trus di tanya…. “Kok jalan sendiri, suami/istri kemana? ” pppffff, langsung speachless…..

e. Suka down sendiri, kalau terkadang, istri berkeluh kesah di telepon, tapi saya nggak bisa mendampinginya secara langsung untuk menghadapi masalah tersebut. Hanya bisa kasih motivasi dan juga ide-ide untuk mengatasi masalahnya tersebut….

f. Kalau Jakarta lagi ujan, yang “ngangetin” cuman selimut dan guling. Serta, sebuah boneka Panda, milik istri saya yang nggak ikut “transmigrasi” ke Surabaya. g. Saya kembali akrab dengan Warteg dan juga Mbak cuci…. :p

ATAU

Ikut transmigrasi ke Surabaya demi berkumpul dengan istri, memulai mencari pekerjaan baru atau mencoba membranikan bikin usaha sendiri.

Positifnya:

a. Nggak lagi kalau adem, di hangatkan hanya dengan selimut dan boneka panda

b. Jadi bisa menemani istri saat ia menghadapi masalah

c. Kalau langsung di terima kerja, berarti akan mendapatkan tantangan dan pengalaman baru

d. Kalau start bikin usaha dan kemudian langsung sukses, wah, mantab tuh dan nggak perlu lagi di kejar kejar deadline kerjaan

e. Jadi ikut rileks juga karena di Surabaya belum terlalu macet…..

f. Biaya hidup jadi lebih murah karena dua-duanya tinggal serumah

g. Jadi bisa mengikuti perkembangan si jabang bayi tiap hari berikut menikmati baby kick tiap hari. Sundul..sundul….Sundul…..

Negatifnya:

a. Kalau nggak langsung dapat kerja, berarti i am become “Temporary Jobless”…

b. Kalau nganggur, berarti tidak ada pemasukan. Untuk bertahan, mengandalkan dari tabungan

c. Karena mengandalkan tabungan, jadi untuk persiapan persalinan dan ongkos hidup sehari-hari, harus putar otak untuk di cukup cukupin.

d. Kalau mau periksa kesehatan, ongkosnya ya dari tabungan juga. Mau beli perangkat bayi, dari tabungan juga. Ingin memulai kontrakan sendiri, pakai tabungan juga.

e. Khawatir, kalau pas nanti di persalinan ada masalah (amit-amit amitt…), pasti tambahan biayanya juga terpaksa harus mengandalkan tabungan juga.

f. Kebutuhan seusai persalinan, mau gak mau juga mengandalkan tabungan juga.

g. Mau start bikin usaha sendiri, juga belum tentu pasti. Terlebih, kalau berdasarkan sharing experience dari yang memulai usaha, biasanya, 1-2 tahun pertama, adalah masa masa “Sakratul Maut” dan jarang bisa langsung untung. Balik modal saja, itu sudah prestasi mengagumkan. Kalaupun mau di kalkulasi, so far, keuntungannya juga belum tentu bisa dipastikan.

f. Nah, untuk modal usaha, berarti juga ya mau gak mau dari tabungan juga…

Ppppffff………. harus gimana ya? pppfff… God, I really really need your help……….

Januari 9, 2011 Posted by | Hidupku | 1 Komentar

Menjadi Yang Terbesar

SEKELOMPOK kuda liar sedang makan rumput di sebuah padang belantara. Tiba-tiba muncul seekor harimau kelaparan yang tengah mencari mangsa. Kuda-kuda itu serentak melindungi diri dengan cara berdiri saling berhadapan membentuk lingkaran. Sang harimau tidak berani mendekat, takut kena tendang. Akan tetapi, dengan tipu muslihatnya ia lalu berkata, “Sungguh sebuah barisan yang bagus. Bolehkah aku tahu kuda jenius mana yang mencetuskan idenya?” Kuda-kuda itu termakan hasutan sang harimau. Mereka berdebat siapa yang pertama kali mencetuskan ide membuat barisan kokoh tersebut. Tidak ada kata sepakat, akhirnya mereka cerai-berai. Sang harimau pun dengan mudah memangsa mereka satu per satu.

“Jangan mencari-cari kebesaran sebab itu justru menunjukkan ‘kekecilan’ diri kita”

April 5, 2010 Posted by | Renungan | 3 Komentar

Tujuh Dosa Sosial….

Kalau setiap manusia telah merasa dirinya benar dan baik di mata Tuhan dan sesama, lalu sadarkah kita semua akan ketujuh dosa sosial ini? (Mahatma Gandhi)
1.Kekayaan tanpa kerja
2.Kenikmatan tanpa nurani
3.Ilmu tanpa kemanusiaan
4.Pengetahuan tanpa karakter
5.Politik tanpa prinsip
6.Bisnis tanpa moralitas
7.Ibadah tanpa pengorbanan

Maret 8, 2010 Posted by | Renungan | 2 Komentar

Nelayan Jepang & Ikan

TAK ada yang menyangsikan kalau masyarakat Jepang begitu menggemari ikan. Sampai-sampai, tingkat konsumsi ikan di Negara Samurai ini cukup tinggi ketimbang negara-negara di Asia lainnya. Sekalipun, juga untuk kebutuhan export-import-nya. Alhasil, para nelayannya pun harus bekerja keras ke berbagai penjuru lautan untuk mendapatkan tangkapan ikan yang diinginkan dan berharap tangkapannya memiliki daya jual yang tinggi.

Alkisah, sekelompok nelayan asal Jepang, sedang pergi melaut dengan menggunakan kapal  penangkapan ikan tradisional mereka. Setelah menempuh perjalanan seminggu, sampai juga mereka di titik dimana ribuan ikan berada.

Hati mereka senang. Mereka berhasil menangkap ratusan ikan. Mereka pun memutuskan kembali ke darat. Sayang, sesampainya di darat, mereka tak sadar kalau ikan-ikan mereka membusuk. Selain jauhnya jarah tempuh kembali ke darat, juga lantaran kapal mereka tak di lengkapi tempat pendingin.

Laku kah ikan mereka? Sama sekali tidak……

Namun para nelayan tadi tak patah arang. Bulan berikutnya, mereka kembali melaut. Kapal mereka pun kini telah dilengkapi dengan tempat pendingin. Sepanjang perjalanan, terbayang di dalam kepala mereka, ratusan ribu yen akan mengalir deras di kantong mereka. Karena mereka yakin, hasil tangkapan ikan mereka tidak lagi akan membusuk.

Sampai juga mereka di titik penangkapan ikan. Kembali, ratusan ikan berhasil terjaring. Mereka pun langsung memutuskan untuk kembali ke darat dengan penuh rasa senang. Sayang, sesampainya di pasar ikan, apa yang mereka perkirakan, tak semuanya terwujudkan.

Laku kah ikan mereka?  Laku. Tapi, dengan harga rendah. Karena Orang Jepang lebih menyukai ikan yang fresh….

Para nelayan kembali memutar otak. Akhirnya, muncul ide untuk membuat kolam air penampungan di tengah kapal mereka. Dan, segera berangkatlah mereka kembali ke tengah laut untuk menangkap ikan.

Ikan pun kembali di dapat. Pikir mereka, pasti kali ini tak ada lagi hambatan untuk meraup keuntungan yang banyak. Ikan pasti masih fresh sesampainya di darat. Tapi sayang, kembali dugaan mereka tidak sepenuhnya terwujudkan.

Laku kah ikan mereka? Laku….. Tapi kembali, dengan harga tidak terlalu tinggi. Selain menyukai ikan yang fresh, orang Jepang ternyata baru rela memberikan harga tinggi apabila mendapatkan ikan yang dinamis…..

Ikan yang dinamis? Gimana caranya yaaaaaa……. Pppffff…..

Tapi, dasar para nelayan Jepang juga, yang tak pernah kehilangan akal. Mereka menemukan ide brilian!!!

Mereka memasukan seekor ikan Hiu di dalam kolam penampungan ikan di kapal mereka. Alhasil, ikan-ikan tangkapan mereka pun akan dibuat bergerak sepanjang hari, sampai kapal mendarat.

Dan, dugaan mereka kali ini benar….. Setelah berhasil menangkap ikan di tengah laut, mereka pun langsung bergegas kembali ke darat.

Laku kah ikan mereka? Laku… Dengan harga tinggi? Ya, dengan harga yang sangat tinggi. Karena ikan mereka fresh dan dinamis.

Kisah nelayan Jepang dan ikan diatas, sama seperti kisah keseharian manusia yang ingin memiliki daya jual tinggi.

Dia harus selalu ”Pantang Menyerah, Terus Fresh, Tahan Banting, Dinamis dan Tak Berhenti Berkarya”

Februari 25, 2010 Posted by | Renungan | 8 Komentar

2 Mata + 2 Telinga = 1 Hati

KITA lahir dengan 2 mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu kedepan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari DUA BUAH SISI Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah. Karena apa yang kita dengar belum tentu suatu kebenaran.

Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang kita pikirkan dalam otak kita jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan.

Kita lahir dengan 2 MATA, 2 TELINGA tapi kita Cuma diberi 1 buah MULUT. Itu Artinya Kita harusnya lebih MENDENGAR, MELIHAT 2X lebih banyak daripada BERBICARA. Berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan. Karena ucapan yang menyakitkan sangat sulit ditarik kembali.

“It take a lifetime process to build a friendship, but it only take a few words to destroy it”

Sehingga ingatlah BICARA yang perlu tapi LIHAT dan DENGARLAH sebanyak-banyaknya, supaya kita TIDAK menyakiti perasaan orang lain.

“The trouble with too many people is they believe the realm of truth always lies within their vision,” – Abraham Lincoln

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian kasih diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mengasihi dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mengasihi kita seperti kita mengasihi dia.

So, berilah kasih tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan arti kasih yang jauh lebih indah……

From someone to everyone

Februari 24, 2010 Posted by | Renungan | 4 Komentar

Selasa Pagi….

Selasa pagi ini……

Aku berjalan sendiri tanpa kau disisi

Terasa sunyi ditengah deru mesin motor

Seolah sepi ditengah orang yang berlalu lalang

Hampa rasanya walau badan ini terhimpit

Terasa dingin meski tak ada angin dan air yang menetes

Tanpa ada canda dan ketawa-ketiwi

Sesaat terlintas bayang yang kurindu

Begitu jugakah dia?

Suara hatikah ini?

Atau hasutan nafsukah itu?

Yang kurasa selalu ingin dekat dengannya

Ku sangat merindukannya

Selasa pagi seorang diri

Seolah waktu enggan berlari

Seakan aku tak beranjak

Seakan tujuankulah yang menghampiri

Membuyarkan lamunan, mengusir hayalan

Tapi tetap tak mampu ku menepis bayangan

Seakan melekat erat di kornea mata

Bayang yang menjerat jiwa dan selalu memikat hati

Oh, Selasa pagi……

Kuatkan diriku untuk bisa melalui dirimu…..

Februari 9, 2010 Posted by | Hidupku | 6 Komentar

I LOVE U BECAUSE…

TANPA disadari, banyak hubungan yang patah hilang dan berganti karena tidak memiliki komitmen.

I love her because of the way she treats me,
I love him because of the way he makes me feel,
I love her because she’s so beautiful,
I love him because he’s feeling on my feet with roses and jewels,

Orang sering mendasari cinta atas hal-hal yang dianggap indah. It may sound romantic dan melakukan hal tersebut bukan sesuatu yang salah. However, sometimes too romantic that we often hear people saying that in cinema, with us eating pop corn and sush-ing rude people.

Mungkin kita sendiri sering berpikir:

I love her because of the way she treats me (what happens if she stops treating you the way you love?)
I love him because of the way he makes me feel (then what happens ig he stops making you feel that way?)
I love her because she’s so beautiful (three weeks later, a bus hit her..)
I love him because he’s feeling on my feet with jewel’s and roses. (out of blue, he broke that he could’nt buy you roses and jewels anymore.)

Jarang ada yang mengatakan,
“Saya Sayang Dia karena Saya INGIN Sayang Dia”.

Itulah KOMITMEN.

Komitmen adalah sumber kekuatan bukan sesuatu yang justru membuat orang takut untuk menghadapinya.

Komitmen adalah sumber kekuatan bagi seorang istri untuk pergi jauh melihat baik dan buruknya suami, menerima dia ketika sedang tampan dan menerima juga manakala dia sedang menguap dengan jeleknya saat bangun pagi.

Komitmen adalah sumber kekuatan bagi seorang suami ketika mengetahui seorang wanita lain mengajaknya berselingkuh, dan ia memilih pulang ke rumah untuk makan malam dengan istri dan berbagi kisah sambil tertawa.

Komitmen memberi perhatian, komitmen menjadi orang tua, komitmen menjadi sahabat hidup, komitmen memberi kasih sayang dan segala komitmen lain, apapun bentuknya.            

That’s how far a commitment will take you
Commitment will give me the strength to make me love someone…. unconditionally.
It’s tough but hey…he will love me back the same way.
I love you because i want to… T
hat’s a powerful sentence, right there.

Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dulu atau mendadak miskin.

Will you still love them, then? That’s why you need commitment.

Don’t Love Someone Because of What/How/Who They are.
From Now On, Start Loving Someone Because You Want To.

Januari 26, 2010 Posted by | Renungan | 22 Komentar

Mari Tertawa II

Mase Mase Basi…

Pelayan Cewe: “Arigato go zai mas…”
Pemuda Playboy sok tahu: “Arigato go zai mbak…”
Sushi Tei, didengar oleh teman yang ingin menjadi orang-orangan sawah.. 

 
Itu mah sekali jepret langsung lari…

Pembeli rese: “Mas, ada kamera paranoid ga?”
Penjaga bingung: “Hah?”
Pembeli rese (nada sok tau): “Itu yg sekali jepret langsung jadi…”
Studio Foto, didengar oleh wanita yang membayangkan ekspresi kamera ketakutan.
 
 
Gak bisa diusahain, mas?

Internet addict: “Mas, di sini ada hotspot-nya nggak?”
Pelayan: “Kebetulan restoran kami hanya menyediakan makanan Indonesia dengan penyajian standard, mbak.”
Restoran di Kemang, didengar oleh seseorang yang hampir menelan sendok. 

 
Kan sekarang jaman mahal!

Si bungsu perempuan ke Ibunya: “Jadi nanti kita daftar TV Kabelnya di Kebon Jeruk yah”
Ibu dengan wajah berseri-seri:
“Ya, mending begitu. Kebon Jeruk kan enggak terlalu jauh dari rumah.   Jadi nanti kabelnya bisa lebih pendek. Lebih murah.”
 Rumah di Kemanggisan, didengar oleh kakak lelaki yang ingin menjedutkan kepalanya ke tembok.

Tapi kan bentuknya beda…

Cewe manja: “Beliin aku sepatu itu dong, Yang…
Cowo sinis:
“Ukuran kaki kamu berapa?”
Cewe manja:
“36.”
Cowo sinis:
“Yakin itu ukuran kaki, bukan ukuran BH kamu?”
Mal di Jakarta, didengar oleh seseorang yang tiba-tiba konsen memperhatikan bentuk tubuh si cewe. 

 
Kalo sinyalnya menipis mungkin namanya berubah… 
Nyokap: “Ini hape ibu ada G-String-nya nggak?”
Anak (bengong, berharap salah denger): “Hah?”
Nyokap: “Ini Nokia 3300 ibu ada G-String-nya apa nggak?”
Anak (masih bengong dan masih berharap salah denger): “G-String?”
Nyokap: “Iya. Itu lho, yang kalo nelepon kita bisa liat muka orang yang teleponan sama kita.”
Anak: “Yaoloh! 3G?”
Nyokap: “Nah itu dia. Emang tadi ibu ngomongnya apa?”
Didengar oleh anak yang sempat takut ibunya mulai bercerita tentang kumbang dan bunga. 
 

Tambah satu kilo, saya lapar…
Pembeli: “Mas, beli paku tembok…”
Penjual:
“Berapa?”
Pembeli:
“Setengah kilo aja…”
Penjual:
“Dibungkus?”
Pembeli
(dengan wajah kesal): “Nggak! Makan sini!”
Toko bangunan Bekasi, didengar pelanggan yang ingin menyediakan sambal. 

 
Waduh, gua ngomongnya keras ya?
Cewe #1: “Ehh… malem ini kita nonton apa jadinya?”
Cewe #2:
“Nih liat di website-nya. . ..Yang seru kayanya cuma Hancock sama Get Smart.”
Cewe #1:
“Hancock gua mau tuh… tapi Get Smart kurang ah….”
Cowo Nimbrung
(tiba tiba muncul): “Iya tuh Getcock emang lebih seru!”
Perkantoran Sudirman, didengar oleh satu ruangan yang mempertanyakan orientasi cowok itu. 
  
 
Buah simalakama.. .
Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik: “De, pegangin setirnya. Mama mau garuk pantat!”
Anak laki-laki berusia 18 tahun: “Ah, Mama! Gak mau ah!”
Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik: “Kamu mendingan megangin setir apa garukin pantat Mama?”
Tol Jagorawi, didengar anak perempuan di belakang, yang ingin melompat keluar mobil. 

Sehat bener ya, jaringannya. ..

Programmer 1: “Kemaren internet gua udah onlen, cuy”
Programmer 2: “Wah selamat-selamat, download pelm lah kita, gak perlu nonton serial di tipi!”
Coordinator: “Gaya bener lo pada, mentang-mentang udah pada pasang internet bearbrand… . ”
Sebuah warung makan, didengar oleh teman-teman yang langsung bergulingan.  

 
Kami perlu yang representatif. ..
Brand Manager: “Hmmm, bagus, visual-nya bagus. Sayang copywriter-nya jelek.”
Copywriter:
“MAKSUD LOE?”
Didengar oleh Creative Director yang langsung menawarkan mengganti copywriter sambil terbahak.
 

Yang horisontal kalau bisa!

Di sebuah restoran:
Teman #1:
“Eh udahan yuk, kite cabs..”
Teman #2:
“Gua aja yang panggilin. Mas! Billboard-nya ya!”
Restoran di Jakarta, didengar oleh banyak orang yang merasa kasihan dengan pelayannya 

 
Dulu di percetakan ya, mas?
Penjaga Parkir: “Wah mas, stiker parkir langganannya udah exemplar nih, besok diperpanjang ya.”
Perkantoran Sudirman, didengar oleh pengemudi yang akhirnya sadar ada tulisan EXP di stikernya. 

  
Otomatis ya, mbak?
Kasir: “Mau order apa, mas?”
Pembeli:
“Coca-Cola large satu, sama french fries satu… Itu aja, mbak.”
Kasir:
“Oke, saya ulang ya, Coca-Cola large satu, french fries large satu. Mau tambah kentang gorengnya, mas?”
Restoran fast food di Jakarta, didengar oleh pembeli yang merasa dicekokin. 

 
Terus jangan kemanisan ya…
Istri terlambat datang: “Yang, kamu tadi pesan apa?”
Suami:
“Escargot.”
Istri (ke pelayan): “Saya pesan itu juga, tapi es-nya jangan banyak-banyak ya. Lagi agak flu.”
Restoran Perancis di Jakarta, didengarkan oleh semua hadirin di meja yang terbengong sambil menahan ketawa. 

 
Cewek & Rokok: Tidak baik untuk kesehatan?
Cowok berisik: “Jadi waktu itu gue lagi ngeliatin cewek cakep bener, terus gue nyalain rokok.  Tapi yang kebakar malah BULU HIDUNG gue!”
Trotoar dekat Plaza Senayan, didengar oleh pejalan kaki yang hampir tersandung. 

  
Yuk, mareeee …
Petugas Atmosfear sambil menunjuk ke panel kamera: “Mas, nanti waktu meluncur jangan lupa melambai ya?”
Pemuda gemulai:
“Ngondek maksud loe?”
FX, didengar oleh pengunjung yang terpingkal-pingkal sendiri. 

 
Walaupun killer, boleh lah…
Ibu Dosen Killer membacakan jawaban ujian: “Tiga enam D ya anak-anak… “
Mahasiswa Tengil (spontan dan keras): “Wew, gede yo!”
Didengar sekelas yang tidak mau membayangkan nasib akademis mahasiswa itu.
 
Mungkin kacamata plus, Pak?
Lelaki Paruh Baya: “Mbak, pesanan saya yang kwetiau ganti deh.”
Pelayan:
“Jadi apa pak?”
Lelaki Paruh Baya:
“Mau coba Ayam Nangkring deh…”
Pelayan:
“Ayam Nanking maksud bapak?”
Lelaki Paruh Baya:
“Eh, gak jadi deh.” (berpikir sambil liat menu) “Ini aja deh kalo gitu, Chicken Garden Blue…”
Solaria, Mal Pondok Indah, didengar oleh pengunjung yang berasa ditonjok hidung dan kemudian ulu hatinya. 

 
Money can’t buy everything.. .
Cowo Tajir: “Wah, gua baru beli notebook baru, canggih, keren…”
Cowo Kere: “Oh ya, notebook loe merknya apaan?”
Cowo Tajir: “Microsoft.”
Perkantoran Hijau di Jakarta Selatan, didengar oleh cowo kere yang ngerasa otaknya lebih tajir.

Januari 15, 2010 Posted by | Ngakak Dulu | 17 Komentar

Past – Present – Future

Hari kemarin, (PAST) 
Kita nggak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi, kan? 
Kita nggak bisa menarik perkataan yang telah terucap… 
Kita nggak mungkin lagi menghapus kesalahan kemarin;
dan juga mengulangi kegembiraan yang kita rasakan kemarin, kecuali mengingatnya..

Biarkan hari kemarin lewat;
Lepaskan saja…
Relakan semuanya yang telah terjadi….

Hari esok. (FUTURE)
Hingga mentari esok hari terbit, 
Kita nggak bakal tau apa yang akan terjadi, kan? 
Kita nggak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita nggak mungkin sedih atau ceria di esok hari, hari ini.
Esok hari belum tiba; biarkan sajalah…

Yang ADA kini hanyalah,
Hari ini (PRESENT)
Pintu masa lalu telah tertutup;
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan diri kita buat hari ini sajalah.
Kita dapat mengerjakan banyak hal hari ini.

Jika kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan
ketakutan akan hari esok,
Hiduplah untuk hari ini.

Karena,
masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya.
Karena yang ada sekarang hanyalah hari ini.

Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada kita.

Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.

Ingatlah, kalau kita menunjukkan penghargaan pada orang lain, itu bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita sendiri.

Jangan biarkan masa lalu mengekangmu ataupun, yang masa depan membuatmu bingung. Lakukan saja yang terbaik hari ini…..

Karna kita masih punya kesempatan untuk melakukannya…

Januari 14, 2010 Posted by | Renungan | 2 Komentar