My Stories …

Just another WordPress.com weblog

Nelayan Jepang & Ikan

TAK ada yang menyangsikan kalau masyarakat Jepang begitu menggemari ikan. Sampai-sampai, tingkat konsumsi ikan di Negara Samurai ini cukup tinggi ketimbang negara-negara di Asia lainnya. Sekalipun, juga untuk kebutuhan export-import-nya. Alhasil, para nelayannya pun harus bekerja keras ke berbagai penjuru lautan untuk mendapatkan tangkapan ikan yang diinginkan dan berharap tangkapannya memiliki daya jual yang tinggi.

Alkisah, sekelompok nelayan asal Jepang, sedang pergi melaut dengan menggunakan kapal  penangkapan ikan tradisional mereka. Setelah menempuh perjalanan seminggu, sampai juga mereka di titik dimana ribuan ikan berada.

Hati mereka senang. Mereka berhasil menangkap ratusan ikan. Mereka pun memutuskan kembali ke darat. Sayang, sesampainya di darat, mereka tak sadar kalau ikan-ikan mereka membusuk. Selain jauhnya jarah tempuh kembali ke darat, juga lantaran kapal mereka tak di lengkapi tempat pendingin.

Laku kah ikan mereka? Sama sekali tidak……

Namun para nelayan tadi tak patah arang. Bulan berikutnya, mereka kembali melaut. Kapal mereka pun kini telah dilengkapi dengan tempat pendingin. Sepanjang perjalanan, terbayang di dalam kepala mereka, ratusan ribu yen akan mengalir deras di kantong mereka. Karena mereka yakin, hasil tangkapan ikan mereka tidak lagi akan membusuk.

Sampai juga mereka di titik penangkapan ikan. Kembali, ratusan ikan berhasil terjaring. Mereka pun langsung memutuskan untuk kembali ke darat dengan penuh rasa senang. Sayang, sesampainya di pasar ikan, apa yang mereka perkirakan, tak semuanya terwujudkan.

Laku kah ikan mereka?  Laku. Tapi, dengan harga rendah. Karena Orang Jepang lebih menyukai ikan yang fresh….

Para nelayan kembali memutar otak. Akhirnya, muncul ide untuk membuat kolam air penampungan di tengah kapal mereka. Dan, segera berangkatlah mereka kembali ke tengah laut untuk menangkap ikan.

Ikan pun kembali di dapat. Pikir mereka, pasti kali ini tak ada lagi hambatan untuk meraup keuntungan yang banyak. Ikan pasti masih fresh sesampainya di darat. Tapi sayang, kembali dugaan mereka tidak sepenuhnya terwujudkan.

Laku kah ikan mereka? Laku….. Tapi kembali, dengan harga tidak terlalu tinggi. Selain menyukai ikan yang fresh, orang Jepang ternyata baru rela memberikan harga tinggi apabila mendapatkan ikan yang dinamis…..

Ikan yang dinamis? Gimana caranya yaaaaaa……. Pppffff…..

Tapi, dasar para nelayan Jepang juga, yang tak pernah kehilangan akal. Mereka menemukan ide brilian!!!

Mereka memasukan seekor ikan Hiu di dalam kolam penampungan ikan di kapal mereka. Alhasil, ikan-ikan tangkapan mereka pun akan dibuat bergerak sepanjang hari, sampai kapal mendarat.

Dan, dugaan mereka kali ini benar….. Setelah berhasil menangkap ikan di tengah laut, mereka pun langsung bergegas kembali ke darat.

Laku kah ikan mereka? Laku… Dengan harga tinggi? Ya, dengan harga yang sangat tinggi. Karena ikan mereka fresh dan dinamis.

Kisah nelayan Jepang dan ikan diatas, sama seperti kisah keseharian manusia yang ingin memiliki daya jual tinggi.

Dia harus selalu ”Pantang Menyerah, Terus Fresh, Tahan Banting, Dinamis dan Tak Berhenti Berkarya”

Februari 25, 2010 Posted by | Renungan | 8 Komentar

2 Mata + 2 Telinga = 1 Hati

KITA lahir dengan 2 mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu kedepan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari DUA BUAH SISI Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah. Karena apa yang kita dengar belum tentu suatu kebenaran.

Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang kita pikirkan dalam otak kita jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan.

Kita lahir dengan 2 MATA, 2 TELINGA tapi kita Cuma diberi 1 buah MULUT. Itu Artinya Kita harusnya lebih MENDENGAR, MELIHAT 2X lebih banyak daripada BERBICARA. Berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan. Karena ucapan yang menyakitkan sangat sulit ditarik kembali.

“It take a lifetime process to build a friendship, but it only take a few words to destroy it”

Sehingga ingatlah BICARA yang perlu tapi LIHAT dan DENGARLAH sebanyak-banyaknya, supaya kita TIDAK menyakiti perasaan orang lain.

“The trouble with too many people is they believe the realm of truth always lies within their vision,” – Abraham Lincoln

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian kasih diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mengasihi dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mengasihi kita seperti kita mengasihi dia.

So, berilah kasih tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan arti kasih yang jauh lebih indah……

From someone to everyone

Februari 24, 2010 Posted by | Renungan | 4 Komentar

Selasa Pagi….

Selasa pagi ini……

Aku berjalan sendiri tanpa kau disisi

Terasa sunyi ditengah deru mesin motor

Seolah sepi ditengah orang yang berlalu lalang

Hampa rasanya walau badan ini terhimpit

Terasa dingin meski tak ada angin dan air yang menetes

Tanpa ada canda dan ketawa-ketiwi

Sesaat terlintas bayang yang kurindu

Begitu jugakah dia?

Suara hatikah ini?

Atau hasutan nafsukah itu?

Yang kurasa selalu ingin dekat dengannya

Ku sangat merindukannya

Selasa pagi seorang diri

Seolah waktu enggan berlari

Seakan aku tak beranjak

Seakan tujuankulah yang menghampiri

Membuyarkan lamunan, mengusir hayalan

Tapi tetap tak mampu ku menepis bayangan

Seakan melekat erat di kornea mata

Bayang yang menjerat jiwa dan selalu memikat hati

Oh, Selasa pagi……

Kuatkan diriku untuk bisa melalui dirimu…..

Februari 9, 2010 Posted by | Hidupku | 6 Komentar