My Stories …

Just another WordPress.com weblog

Pilih: Suami Komuter atau Jobless Sementara?

Saat ini pikiran saya sedang kusut sekusut kusutnya. Entah apa yang terjadi dengan hati dan pikiran saya. Seolah tak mau berkompromi dan bekerjasama. Saya di hadapkan dua pilihan yang mungkin TERBESAR dalam hidup saya di awal Tahun 2011 ini.

Bertahan bekerja di Jakarta namun harus jadi suami “komuter” lantaran istri yang sedang hamil 7 bulan di “transmigrasikan” di Surabaya demi persiapan kelahiran putri pertama saya.

Positifnya:

a. Pikiran saya lebih tenang karena fokus dengan pekerjaan.

b. Istri saya lebih bisa mengurus diri dan jabang bayi dengan kehidupan yang lebih sehat dan minim stress. (Jauh dari kemacetannnn bro pastinya dan juga biaya hidup yang mahal cuii…)

c. Setidaknya, jadi ada yang memperhatikan lebih cermat kondisi kesehatannya karena ada kakak dan orang tuanya yang menemani.

d. Istri dan si jabang bayi jadi bisa menghirup udara lebih bersih ketimbang di Ibukota yang kurang bersahabat ini.

e. Secara financial, saya masih aman. Saya masih menerima gaji bulan, bentar lagi bonus juga keluar, dana kesehatan kantor juga masih bisa menampung medical cost istri saya, nabung untuk persiapan persalinan, masih bisa kirim dana ke istri untuk pegangan dan juga ibu saya…. Singkatnya, kondisi kocek “AMAN”.

f. Jadi sering berdoa, lantaran berharap istri dan si jabang bayi terus dalam kondisi sehat. Meski, saya tidak bisa selalu menemani.

Negatifnya:

a. Saling kangennnn cuiii ama Bini…. Baru bisa ka etemu 2 minggu sekali, dan hanya 3 hari.

b. Secara psikis, nggak bisa menemani istri setiap hari dan terkadang saling merasa kesepian.

c. komunikasi, so far, mengandalkan telepon tiap hari, kirim foto-foto, dan terkadang email/ym.

d. Suka bingung, kalau ketemu orang, trus di tanya…. “Kok jalan sendiri, suami/istri kemana? ” pppffff, langsung speachless…..

e. Suka down sendiri, kalau terkadang, istri berkeluh kesah di telepon, tapi saya nggak bisa mendampinginya secara langsung untuk menghadapi masalah tersebut. Hanya bisa kasih motivasi dan juga ide-ide untuk mengatasi masalahnya tersebut….

f. Kalau Jakarta lagi ujan, yang “ngangetin” cuman selimut dan guling. Serta, sebuah boneka Panda, milik istri saya yang nggak ikut “transmigrasi” ke Surabaya. g. Saya kembali akrab dengan Warteg dan juga Mbak cuci…. :p

ATAU

Ikut transmigrasi ke Surabaya demi berkumpul dengan istri, memulai mencari pekerjaan baru atau mencoba membranikan bikin usaha sendiri.

Positifnya:

a. Nggak lagi kalau adem, di hangatkan hanya dengan selimut dan boneka panda

b. Jadi bisa menemani istri saat ia menghadapi masalah

c. Kalau langsung di terima kerja, berarti akan mendapatkan tantangan dan pengalaman baru

d. Kalau start bikin usaha dan kemudian langsung sukses, wah, mantab tuh dan nggak perlu lagi di kejar kejar deadline kerjaan

e. Jadi ikut rileks juga karena di Surabaya belum terlalu macet…..

f. Biaya hidup jadi lebih murah karena dua-duanya tinggal serumah

g. Jadi bisa mengikuti perkembangan si jabang bayi tiap hari berikut menikmati baby kick tiap hari. Sundul..sundul….Sundul…..

Negatifnya:

a. Kalau nggak langsung dapat kerja, berarti i am become “Temporary Jobless”…

b. Kalau nganggur, berarti tidak ada pemasukan. Untuk bertahan, mengandalkan dari tabungan

c. Karena mengandalkan tabungan, jadi untuk persiapan persalinan dan ongkos hidup sehari-hari, harus putar otak untuk di cukup cukupin.

d. Kalau mau periksa kesehatan, ongkosnya ya dari tabungan juga. Mau beli perangkat bayi, dari tabungan juga. Ingin memulai kontrakan sendiri, pakai tabungan juga.

e. Khawatir, kalau pas nanti di persalinan ada masalah (amit-amit amitt…), pasti tambahan biayanya juga terpaksa harus mengandalkan tabungan juga.

f. Kebutuhan seusai persalinan, mau gak mau juga mengandalkan tabungan juga.

g. Mau start bikin usaha sendiri, juga belum tentu pasti. Terlebih, kalau berdasarkan sharing experience dari yang memulai usaha, biasanya, 1-2 tahun pertama, adalah masa masa “Sakratul Maut” dan jarang bisa langsung untung. Balik modal saja, itu sudah prestasi mengagumkan. Kalaupun mau di kalkulasi, so far, keuntungannya juga belum tentu bisa dipastikan.

f. Nah, untuk modal usaha, berarti juga ya mau gak mau dari tabungan juga…

Ppppffff………. harus gimana ya? pppfff… God, I really really need your help……….

Januari 9, 2011 - Posted by | Hidupku

1 Komentar »

  1. hemm..ini yang lagi saya pikirkan juga mas, beda kasus tapi punya kesamaan cerita dalam hal memilih..ppfftt..

    Komentar oleh Bagus Baron | Desember 9, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: