My Stories …

Just another WordPress.com weblog

Pilih: Suami Komuter atau Jobless Sementara?

Saat ini pikiran saya sedang kusut sekusut kusutnya. Entah apa yang terjadi dengan hati dan pikiran saya. Seolah tak mau berkompromi dan bekerjasama. Saya di hadapkan dua pilihan yang mungkin TERBESAR dalam hidup saya di awal Tahun 2011 ini.

Bertahan bekerja di Jakarta namun harus jadi suami “komuter” lantaran istri yang sedang hamil 7 bulan di “transmigrasikan” di Surabaya demi persiapan kelahiran putri pertama saya.

Positifnya:

a. Pikiran saya lebih tenang karena fokus dengan pekerjaan.

b. Istri saya lebih bisa mengurus diri dan jabang bayi dengan kehidupan yang lebih sehat dan minim stress. (Jauh dari kemacetannnn bro pastinya dan juga biaya hidup yang mahal cuii…)

c. Setidaknya, jadi ada yang memperhatikan lebih cermat kondisi kesehatannya karena ada kakak dan orang tuanya yang menemani.

d. Istri dan si jabang bayi jadi bisa menghirup udara lebih bersih ketimbang di Ibukota yang kurang bersahabat ini.

e. Secara financial, saya masih aman. Saya masih menerima gaji bulan, bentar lagi bonus juga keluar, dana kesehatan kantor juga masih bisa menampung medical cost istri saya, nabung untuk persiapan persalinan, masih bisa kirim dana ke istri untuk pegangan dan juga ibu saya…. Singkatnya, kondisi kocek “AMAN”.

f. Jadi sering berdoa, lantaran berharap istri dan si jabang bayi terus dalam kondisi sehat. Meski, saya tidak bisa selalu menemani.

Negatifnya:

a. Saling kangennnn cuiii ama Bini…. Baru bisa ka etemu 2 minggu sekali, dan hanya 3 hari.

b. Secara psikis, nggak bisa menemani istri setiap hari dan terkadang saling merasa kesepian.

c. komunikasi, so far, mengandalkan telepon tiap hari, kirim foto-foto, dan terkadang email/ym.

d. Suka bingung, kalau ketemu orang, trus di tanya…. “Kok jalan sendiri, suami/istri kemana? ” pppffff, langsung speachless…..

e. Suka down sendiri, kalau terkadang, istri berkeluh kesah di telepon, tapi saya nggak bisa mendampinginya secara langsung untuk menghadapi masalah tersebut. Hanya bisa kasih motivasi dan juga ide-ide untuk mengatasi masalahnya tersebut….

f. Kalau Jakarta lagi ujan, yang “ngangetin” cuman selimut dan guling. Serta, sebuah boneka Panda, milik istri saya yang nggak ikut “transmigrasi” ke Surabaya. g. Saya kembali akrab dengan Warteg dan juga Mbak cuci…. :p

ATAU

Ikut transmigrasi ke Surabaya demi berkumpul dengan istri, memulai mencari pekerjaan baru atau mencoba membranikan bikin usaha sendiri.

Positifnya:

a. Nggak lagi kalau adem, di hangatkan hanya dengan selimut dan boneka panda

b. Jadi bisa menemani istri saat ia menghadapi masalah

c. Kalau langsung di terima kerja, berarti akan mendapatkan tantangan dan pengalaman baru

d. Kalau start bikin usaha dan kemudian langsung sukses, wah, mantab tuh dan nggak perlu lagi di kejar kejar deadline kerjaan

e. Jadi ikut rileks juga karena di Surabaya belum terlalu macet…..

f. Biaya hidup jadi lebih murah karena dua-duanya tinggal serumah

g. Jadi bisa mengikuti perkembangan si jabang bayi tiap hari berikut menikmati baby kick tiap hari. Sundul..sundul….Sundul…..

Negatifnya:

a. Kalau nggak langsung dapat kerja, berarti i am become “Temporary Jobless”…

b. Kalau nganggur, berarti tidak ada pemasukan. Untuk bertahan, mengandalkan dari tabungan

c. Karena mengandalkan tabungan, jadi untuk persiapan persalinan dan ongkos hidup sehari-hari, harus putar otak untuk di cukup cukupin.

d. Kalau mau periksa kesehatan, ongkosnya ya dari tabungan juga. Mau beli perangkat bayi, dari tabungan juga. Ingin memulai kontrakan sendiri, pakai tabungan juga.

e. Khawatir, kalau pas nanti di persalinan ada masalah (amit-amit amitt…), pasti tambahan biayanya juga terpaksa harus mengandalkan tabungan juga.

f. Kebutuhan seusai persalinan, mau gak mau juga mengandalkan tabungan juga.

g. Mau start bikin usaha sendiri, juga belum tentu pasti. Terlebih, kalau berdasarkan sharing experience dari yang memulai usaha, biasanya, 1-2 tahun pertama, adalah masa masa “Sakratul Maut” dan jarang bisa langsung untung. Balik modal saja, itu sudah prestasi mengagumkan. Kalaupun mau di kalkulasi, so far, keuntungannya juga belum tentu bisa dipastikan.

f. Nah, untuk modal usaha, berarti juga ya mau gak mau dari tabungan juga…

Ppppffff………. harus gimana ya? pppfff… God, I really really need your help……….

Januari 9, 2011 Posted by | Hidupku | 1 Komentar

Selasa Pagi….

Selasa pagi ini……

Aku berjalan sendiri tanpa kau disisi

Terasa sunyi ditengah deru mesin motor

Seolah sepi ditengah orang yang berlalu lalang

Hampa rasanya walau badan ini terhimpit

Terasa dingin meski tak ada angin dan air yang menetes

Tanpa ada canda dan ketawa-ketiwi

Sesaat terlintas bayang yang kurindu

Begitu jugakah dia?

Suara hatikah ini?

Atau hasutan nafsukah itu?

Yang kurasa selalu ingin dekat dengannya

Ku sangat merindukannya

Selasa pagi seorang diri

Seolah waktu enggan berlari

Seakan aku tak beranjak

Seakan tujuankulah yang menghampiri

Membuyarkan lamunan, mengusir hayalan

Tapi tetap tak mampu ku menepis bayangan

Seakan melekat erat di kornea mata

Bayang yang menjerat jiwa dan selalu memikat hati

Oh, Selasa pagi……

Kuatkan diriku untuk bisa melalui dirimu…..

Februari 9, 2010 Posted by | Hidupku | 6 Komentar

Kenapa Harus Selalu Mencari yang Berbakat?

BILA puluhan stasiun televisi baik nasional maupun lokal terus berlomba- mengadakan reality show kontes atau kompetisi pencarian orang-orang berbakat, seperti KDI (Kontes Dangdut Indonesia), Idonesia Idol, AFI hingga ajang pencarian jodoh seperti Take Him Out Indonesia, Bu Rini ”Sampah” justru memilih untuk berburu dan mendekati orang-orang yang tidak berbakat. Kenapa?

”Kalau semua sukanya mencari orang-orang yang berbakat, lalu yang tidak berbakat dikemanain? Padahal jumlah yang tidak berbakat tentu lebih banyak daripada yang berbakat,” ujarnya.

Kalau dipikir-pikir, benar juga. Kalau semua orang hanya melihat orang-orang berpotensi, lalu yang tidak berpotensi mau dikemanain. Rela dibuang begitu saja? Atau dibiarkan hilang dengan sendirinya?

Tapi berbekal keteguhan dan keuletan hatinya, Bu Rini justru mengajak para abang tukang becak, ibu-ibu rumah tangga, dan warga sekitar yang rata-rata menjadi ”orang rumahan” untuk berkarya dari sampah-sampah.

Tentu, bukan pekerjaan mudah untuk mengajak mereka.

”Rata-rata saat pertama saya ajak, mereka semua minder. Opo aku yo bisa bikin kerajinan kayak gitu? Entar kalau salah gimana? Dan, ratusan alasan lainnya. Tapi, pada dasarnya mereka punya niatan. Hanya saja tidak segera ditindak lanjuti lataran mereka jarang mendapatkan kesempatan seperti ini,” terangnya.

Memang, seringkali yang membedakan orang pintar dan orang terbelakang, terbentur oleh kesempatan. Puluhan ribu anak-anak sekolah di Indonesia harus mengurungkan niat melanjutkan sekolahnya, lantaran tidak memiliki biaya. Ratusan ribu tenaga kerja potensial menganggur, lantaran sedikitnya kesempatan lapangan pekerjaan. Ya, kesempatan. Seperti sebuah bongkahan emas batangan yang selalu menarik perhatian siapa saja dan selalu menjadi rebutan.  

Berbekal semangatnya untuk mengurangi sampah, Bu Rini terus memandu orang-orang ini untuk berbuat lebih baik. Pikir Bu Rini, semua ini juga tidak mungkin selamanya dia kerjakan sendiri.

”Pertama-tama, saya yang ngajari. Walau saya sendiri, nggak pernah mendapatkan pelatihan meronte atau menjahit untuk membuat barang-barang seperti ini. Pokoknya, insting aja. Tapi ternyata hasilnya, lumayan. Pelan-pelan, beberapa orang ternyata juga cepet paham. Jadi yang udah lancar, membantu saya mengajari yang lain,” jelasnya.

Insting. Sebuah kemampuan yang dimiliki manusia, yang berada dibawah alam sadar kita, namun sering muncul tanpa kita sadari dan seringnya disaat genting. Karena insting, manusia dapat bertahan hidup. Karena sebuah insting, seorang ibu dapat merasakan kondisi anak yang tergulai sakit meski sang anak berada jauh dari pelukannya. Karena insting, manusia dapat melakukan pengambilan keputusan yang sangat penting dan fatal akibatnya.

Namun insting Bu Rini ”Sampah” bertujuan kebaikan. Saat dia menjabat sebagai Ketua RT, hampir setiap hari Bu Rini mengumpulkan para tukang becak, pembersih selokan, pemilik warteg dan ibu-ibu rumah tangga untuk berkumpul di halaman rumahnya.

Ya, orang-orang tidak berbakat itu. Orang-orang yang selalu dipandang sebelah mata oleh generasi muda dan yang selalu tersisihkan oleh manusia-manusia modern masa kini.  

Tak lain dan tak bukan untuk berlatih meronte dan merangkai tumpukan sampah-sampah plastik, hingga menjadi beraneka ragam barang-barang berguna seperti tas, taplak meja, frame foto, alas gelas, hingga penutup dispenser. Tak ayal, rumah Bu Rini pun tak ada bedanya dengan sanggar seni.

Dukungan satu persatu juga mulai berdatang. Bahkan Bu Rini tak perlu lagi menyisir jalanan di kampungnya untuk memungut sampah plastik. Sebagai besar warga, dengan kesadarannya, ”menyetor” sampah plastik di rumahnya kepada Bu Rini. Mereka pun jadi belajar membedakan sampah non organik dengan organik secara tidak langsung. Selain itu, kreativitas Bu Rini ampuh memancing warga setempat untuk mengatur masalah persampahan di lingkungan mereka secara mandiri.

”Pokoknya, sampah plastik nggak boleh keluar dari kampung ini. Ingat sampah plastik, ingat bu Rini!” tuturnya.   

Tak salah kalau predikat Bu Rini ”Sampah” terus melekat. Bahkan predikat tersebut terdengar hingga ke berbagai daerah di luar Semarang. Ibarat selebritis, Bu Rini kini menjadi ”target” kunjungan dari berbagai kalangan, yang ingin tahu cara Bu Rini mengolah sampah plastik ini. Mulai dari anggota DPR, ibu-ibu PKK hingga anak-anak kuliahan atau SMA….

TERUS BERKARYA BU RINIIII….!!!! 😀

Oktober 13, 2009 Posted by | Hidupku | 3 Komentar

Perempuan Mulia Itu Dijuluki “Sampah”…

SENGATAN matahari pagi, menyinari benar wajah perempuan berkemeja merah itu. Dia berjalan menghampiri saya dengan langkah yang tegap, cepat dan penuh semangat. Bukan sembarang kemeja merah karena di bagian dadanya terdapat motif bordiran indah karya kedua tangannya. Sebuah bordiran bermotif bunga-bunga, dan bertuliskan “The Young Generation” di bagian dada kirinya.

Uniknya, bordiran tersebut tidak terbuat dari bahan benang umumnya. Secara jelas, bordiran tersebut dianyam dengan bahan tali rafia. Tali plastik berwarna warni yang biasa dipakai umumnya untuk membuat gantungan jemuran, mengikatkan seekor kambing, tumpukan kerdus atau barang yang sudah tidak terpakai lagi.

Sebuah mahakarya sederhana yang spektakuler yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh desainer kenamaan Indonesia seperti Itang Yunaz, Oscar Lawalata, atapun desainer internasional sekaliber Gucci.

Dia lalu datang menghampiri dan menyapa saya dengan genggaman tangan ala adu panco dan berkata, “Selamat Siang mas, Lebih Semangat hari ini!”…

Entah apa maksudnya, namun kalimat sapa tersebut tidak pernah saya dapatkan seumur hidup saya, dan saya yakin bukan bagian tradisi di negeri ini. Tapi ya sudah, itu hak dia. Tapi yang jelas, kesan pertama yang muncul adalah perempuan ini adalah perempuan tangguh. Karena itu dapat saya rasakan juga dari genggaman tangannya yang cukup erat sebagai makhluk hawa.

Dialah Ibu Emiliana Suci Suborini Yudianto (48). Salah satu warga Dworowati Dalam Semarang, yang merupakan salah satu nominator dari sebuah acara penghargaan lingkungan baru-baru ini. Dia diaulat sebagai calon peraih penghargaan lingkungan dalam kategori Motivator Lingkungan.

Perempuan ini saya jumpai saat bertandang ke Semarang, Jumat lalu (8/10), ketika hendak melakukan survei lokasi sekaligus melakukan interview langsung ke rumah ibu empat anak yang akrab dengan ibu Rini tersebut. Dan karena kepeduliannya yang sangat tinggi terhadap masalah sampah, masyarakat pun menyebutnya Ibu Rini “Sampah”.

Saya mendapatkan tugas dari kantor untuk melakukan survei dan menginterview Ibu Rini secara langsung guna mendapatkan profil tentang kehidupan dan kepedulian beliau sehari-hari khususnya dalam “menyulap” beraneka sampah menjadi barang-barang bernilai tinggi. Juga, “rahasia” keteguhan beliau yang secara konsisten mengurusi masalah per-sampah-an yang tak kunjung ada akhirnya.

Kurang lebih saya berhasil melakukan interview sepanjang 2,5 jam. Hasilnya, saya tidak hanya mendapatkan informasi tentang bagaimana mengolah sampah menjadi benda-benda kreatif dan memiliki nilai kembali, tapi juga pelajaran dan prinsip hidup tentang Kesederhanaan, Berbakti, dan Ketulusan Berkarya kepada Tuhan dan Masyarakat

“Hidup saya nggak mau muluk-muluk. Takut nggak sampai. Yang penting saya bisa melakukan yang terbaik buat masyarakat. Biar sampah plastik nggak bertebaran dimana-mana saja. Dan, uang bukan segalanya.. Biar Tuhan yang memutuskan ganjaran buat saya dan keluarga saya,”

Izinkan saya berbagai cerita dalam 2-3 tulisan di blog saya ini dalam seminggu kedepan. Semoga kisah tentang ibu Rini “Sampah” menjadi cermin untuk kita semua…

Oiya, sebelum saya meninggalkan rumahnya, sebuah puisi pun dipersembahkan kepada saya… Just, take a look sembari menikmati tampang Ibu Rini “Sampah” yaaa…. 😀

Terima kasih Bu Rini untuk segala dedikasi dan ketulusan hatimu….

1

Sampah…

Sepanjang jalan kulalui

Sepenuhi jiwa pun merajut hari

Kala jemari meronte tiada henti

Ku kais sampah di siang hari

Semua mata menatap tiada peduli

Ketika aku mencuci, melipat dan menjahit

Sampah…

Yaaaaa, sampah disana sini

Ada yang membuang, dan ada yang mengerti

Mari kurangi polusi dan cinta bumi

Karyakan sampah dengan memilih

Ciptakan hijau di sepanjang jalan

Campur arahan tangan bagi yang berjiwa

Ayo bergandeng tangan

Buat dunia senyum dalam gembira…..

42

38

65

1113

12


Oktober 11, 2009 Posted by | Hidupku | Tinggalkan komentar

Kenapa harus GAGAL?????

headache

RASANYA  ingin marahhhh!!! Rasanya maaalluuuuu!!! Rasanya jengkeellll!! Rasanya jadi manusia paling bodoh seduniiiaaa!!! Didalam kepala isinya cuman… G*b*ok! F**k…! D**mmmm…! J*nc*kkkkkkk….! As*oel……. Arrrrgggggg!!! Bukan kah bahasa itu indah… Bukan kah bahasa itu mudah…. Katanya yang penting dalam bahasa adalah ”saling memahami”…. Tapi kenapa harus dibingungkan dengan grammer yang begitu membingungkan… Kenapa harus merubah logika berpikir? Kenapa harus sampai dua kali diuji? Daaaannnnn, masih gagal lagiiiii….. What’s wrongggggg with the way of my logical thinking!!! What’s problem i need more????

Oktober 7, 2009 Posted by | Hidupku | 6 Komentar

21 jam 45 menit 31 detik

karikatur mudik lebaran

INI bukan catatan waktu tercepat adu balap mobil Le Mans. Juga bukan Rally Paris-Dakar. Terlebih, jangan pernah berpikir kalau waktu tersebut adalah time detector bom Noordin M Top Cs untuk meledakan Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott beberapa waktu lalu.

Percaya atau tidak, waktu di atas merupakan rekaman perjalanan saya saat mudik lebaran 2009 dari Jakarta-Purwokerto yang menempuh jarak sekitar 432 km. Idealnya, jarak tersebut cukup ditempuh 7-8 jam. Namun, semua berbeda di musim lebaran kali ini.

Jumat, 23 September 2009 pukul 20:25. Sebuah mobil Mitsubishi tipe Colt L-300 keluaran tahun 1997 akhirnya berhenti di depan kos saya. Mobil tersebut tak lain dan tak bukan, mobil sebuah agen travel yang akan mengantarkan saya mudik ke Purwokerto.

Cukup membutuhkan kesabaran tinggi menanti mobil berkapasitas 9 orang tersebut. Pasalnya, saya seharusnya dijemput pukul 19:00. Namun sudah hampir lebih dari satu jam, tidak ada kabar baik. Saya menanti dengan tidak pasti lantaran pihak travel juga belum dapat memastikan posisi mobil dan sang sopir berada karena tidak dapat dihubungi.

Usut punya usut, keterlambatan disebabkan karena mobil sebelumnya harus berkeliling untuk menjemput penumpang lain yang tersebar di sekitar kawasan Jakarta Selatan. Dan, saya kebetulan merupakan penumpang terakhir. Ditambah, hari itu menurut berita di TV, Jakarta sedang dilanda bencana kemacetan berat lantaran arus mudik memasuki tahap puncaknya. So, meski rada bete, tapi dimaklumi…

Pelajaran Pertama:

“Jangan suka menunggu sesuatu yang tidak pasti. Dengarkan kata hati dan ikuti naluri untuk segera beraksi”.

Sampai detik tersebut, tidak ada firasat apapun kalau saya akan mengalami perjalanan darat terlama dalam sejarah hidup saya. Mungkin karena terlalu senang membayangkan keceriaan yang akan terjadi di Purwokerto, bertemu sanak keluarga, wisata kuliner kesukaan saya khususnya tempe Medoan, serta berdongeng ria bersama Eyang dan Pakde Bude saya. Mungkin juga sudah “terinfeksi” virus liburan yang super akut. Toh, pikir saya saat itu, kalaupun macet, tidak akan lebih dari 4-5 jam.

Pelajaran Kedua:

“Always positive thinking is good, but be realistic…”

Tapi, entah kenapa juga ketika itu saya iseng mengaktifkan fasilitas stopwatch jam tangan Casio kesayangan saya. Sampai detik inipun, saya juga masih belum menemukan alasannya. Yang jelas, keisengan tersebut ternyata berhasil berbuah cerita.

Tepat pukul 20:45, mobil akhirnya bertolak menuju ruas-ruas jalan arah keluar Jakarta, pastinya menuju ke United States of Purwokerto (USP)!

Selang 30  menit perjalanan, saya baru tersadar kalau dalam satu mobil tersebut yang berisi 9 orang (termasuk Pak Sopir), hanya saya dan sang driver yang berstatus mas mas. Yang lain, mbak-mbak yang bernasib mujur karena diizinkan mudik oleh para tuannya.

Bukan maksud terlalu berfantasi, tapi ketika itu serasa diapit oleh para bidadari. Sialnya, serasa pula sedang menterjemahkan peta buta. Suasana mobil yang gelap, dan posisi duduk penumpang yang menghadap kedepan, membuat saya jadi tidak bisa memastikan pesona kecantikan para bidadari tersebut.

Saya pikir akan  berkesempatan juga berbasa basi berkenalan, namun rasanya udara AC yang dingin dan juga suasana didalam mobil yang gelap, seolah membius seluruh bibir para penumpang untuk tidak berbicara. Saya pun terlena dalam alunan berbagai genre musik yang keluar dari iPod Nano saya, hingga akhirnya tertidur pulassss……

Pelajaran Ketiga:

“Selalu waspada dimana dan bagaimana pun posisi dan kondisi Anda”

Kegelisahan mulai menyeruak ketika secara perlahan udara dalam mobil menjadi menghangat dan tak terdengar bising suara mesin diesel mobil. Saya pun tak merasakan lagi goncangan benteruan ban dengan jalan, yang kemudian saya simpulkan kalau mobil sedang berhenti.

Menghangatnya udara yang kemudian terus beranjak panas, juga menandakan kalau setidaknya lebih dari satu jam mobil sudah tidak bergerak. Ini tak lain dan tak bukan karena sang sopir mengikuti benar petunjuk keselamatan berkendara, dimana kalau mobil dalam kondisi berhenti lebih dari 30 menit sebaiknya penggunaan AC dihentikan agar udara didalam mobil tidak bercampur dengan gas buang yang dapat menyebabkan sesak napas dan berujung kematian bagi para penumpangnya.

Kedua mata saya mendadak melotot ketika melihat kedua jarum pada jam tangan saya menunjukan pukul jam 4 pagi. Dan, angka digital stopwatch menunjukan tulisan : 7:05:45:00 yang berarti “tujuh jam, lima menit dan empat puluh lima detik”.

Sontak otak berinsiatif untuk memicu pita suara, gigi dan lidah bekerja mengeluarkan beberapa kalimat pertanyaan.

“Pak, ini sudah sampai mana?” tanya saya kepada pak supir masih dalam kodisi setengah sadar dan punggung yang terasa memikul beban 90 kg.

“Di Indramayu Mas. Mau masuk Majalengka,” jawabnya singkat dengan nada berat, petanda kalau rasa lelah mulai menyelimuti badannya.

“Haa, di Indramayu? Udah lama Pak berhentinya? Kenapa?” tanya saya secara brondong dengan nada penasaran sekaligus kebingungan terlebih melihat keluar kaca mobil banyak orang sedang bergumul dan bercengkrama seperti sedang di sebuah pasar malam.

“Udah sejam mas. Dari jam 4 pagi tadi. Macet total. Nggak bisa bergerak. Baru kerasa sekarang mas?” jawab Pak Supir bernada sedikit ngeledek lantaran tau kalau saya telah tertidur pulas semenjak keberangkatan.

Pelajaran Keempat:

“Biasakan, kenali dan pahami kondisi lawan bicara Anda”

“Kecelakaan ya Pak? Panjang bener antriannya. Beruntun?” tanya saya penasaran.

“Nggak mas. Biasa, bus dan mobil nggak mau ngalah. Salip-salipan, trus ke kunci karena di depannya ada mobil dan bus lagi. Udah tau jalannya kecil kayak gini. Wis, payah semua! Pada nggak sabar” jelasnya dengan kesal.

Apa yang dikatakan Pak Supir, memang benar. Saat saya mencoba melihat ke luar kaca mobil, lebar jalan tak lebih lebar dari lebar dua bus yang diparkirkan sejajar. Kanan kirinya pun juga tidak memiliki bahu jalan lantaran langsung ”dipagari” dengan selokan sedalam 1,5 meter.

Usut punya usut, jalan yang saya lalu ini merupakan jalur anternatif Indramayu-Majalengka yang belum selesai pembangunanya semenjak tahun lalu lalu. Dibangun atas kerjasama kedua kabupaten ini dan pemerintah Provinsi Jawa Barat, dengan jalan membuka jalan hutan. Tak salah kalau sepanjang mata memandang, saya hanya bisa melihat sisa-sisa ilang yang terbakar atau kering usai pembukaan hutan. Kurang lebih memiliki panjang 3,5 KM, belum diaspal namun sudah dibeton.

Usai mengamati beberapa saat melalui kaca mobil, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari mobil. Selain karena udara di dalam mobil semakin panas, seluruh tubuh saya seolah berteriak meminta untuk digerakan. Punggung tak mau akrab lagi dengan kursi mobil dan (maaf), pantat pun sudah lelah menjadi tumpuan badan. Toh, saat itu masih pagi sekali karena jam menunjukan masih pukul 05.15. Dan orang-orang juga banyak berkerumun di luar.

Pikir saya, ya, sembari menghirup udara pagi yang segar dan sedikit menggerak-gerakan badan, kali saja menemukan bidadari yang bisa diajak ngobrol meski untuk sesaat. Lelaki mana yang kuasa kalau disajikan tawaran seperti ini. Hihihihi…. 😀

Pelajaran Kelima:

”Tak bisa dipungkiri, bagi pria, dalam kondisi apapun, women always eyecatching…”

Di luar, pemandangan cukup mencengankan. Ratusan mobil berjajar laksana barisan petugas pengibar bendera 17 Agustus di Istana Negara. Berbagai jenis mobil mengantri seramai sebuah kawasan tempat pelelangan mobil. Mulai jenis mobil pribadi, bus hingga mobil pengangkut barang yang dimodifikasi menjadi angkutan manusia.

Para penumpangnya pun memutuskan untuk bercengkrama di luar mobil. Bahkan juga ada yang rela melanjutkan tidurnya diatas kap mobil atau membuka tikar di jalan. Tak karuan, jalan pintas Indramayu-Majalengka saat itu dirubah wajahnya menjadi tempat peristirahatan sementara. Saya pun memutuskan berjalan menyusuri untuk melihat kondisi dan perilaku manusia lainnya.

Tanpa terasa, jam tangan saya telah menunjukan pukul 05:45. Berarti hampir dua jam, mobil di sepanjang jalan tersebut tidak bergerak. Berarti juga sudah hampir 9 jam saya masih teraktung-katung dijalan. Tak ada kepastian, tak ada juga harapan. Namun semua itu sirna saat terdengar sirine sepeda motor patroli Polisi berdengung sembari di selingi beberapa himbauan via megaphone (pengeras suara). Himbauan ini tak lain dan tak bukan guna mencairkan kepadatan, agar arus kendaraan kembali berjalan. Dan, cara tersebut akhirnya berhasil.

Sekitar pukul 06:30 pagi, kondisi jalan berangsur normal. Mobil dapat kembali berjalan, meski kecepatan terpaksa harus ditahan antara 25-40 km/per jam lantaran terkadang ada beberapa kendaraan yang berhenti mendadak atau mencoba kembali melakukan aksi salip menyalip ala balap Formula 1.

Lepas dari jalan tersebut, kondisi jalan kembali benar-benar normal. Mobil travel yang saya tumpangi kembali bisa memacu lajunya di kisaran 60-80 km/per jam.

Lantaran terlalu lelah menanti dan bengong, saya pun memutuskan untuk kembali memasangkan kedua earphone IPod di telinga dan melanjutkan mimpi indah di tengah para bidadari yang sudah tampak kelelahan. Saya pun kembali tertidurrrrr…

Sepanjang perjalanan kedepan, mobil terkadang masih suka berhenti lantaran kembali terjebak kemacetan. Lama-kelamaan serasa terbentuk siklus yang berpola dan saya klaim sebagai Siklus 30:15. Maksudnya, berjalan 30 menit, macet 15 menit, berjalan 30 menit, macet 15 menit, demikian seterusnya. Kecepatan rata-rata mobil pun tak bisa lepas lebih dari 25-55 km/jam.

Alhasil, tidur saya pun juga tak bisa pulas, mirip tidur seekor ayam yang selalu waspada akan datangnya bahaya. Merem, melek, merem, melek, lihat jam. …. Merem, melek, merem, melek, lihat jam….. Cepek deh…..

Pelajaran Keenam:

”Tentukan pilihan, satu keputusan, siap menanggung segala hasil dan resikonya”

Mobil pun akhirnya berhenti sejenak di Cirebon. Kami berhenti di Depot Surgawi Bumi, yang tak lain dan tak bukan warung makan rekan dari agen travel mobil tumpangan saya. Pikir saya, akhirnya Pak Sopir tergugah hatinya juga mendengar musik keroncong dari perut kami yang sudah bersenandung sejak pagi hari tadi. (karena tidak berhenti untuk sarapan sejak pagi)

Pelajaran Ketujuh:

”Jangan berpikir orang lain selalu tahu kondisi Anda.Katakanlah… ”

Sampai detik itu, jam tangan sudah menunjukan sekitar pukul 14:00. Itu berarti sudah hampir 15 jam saya di jalan sejak meninggalkan Jakarta. Apabila lama waktu tersebut dikonversikan ke lama perjalanan pesawat, mungkin saya sudah berada di Belada atau Inggris. Sayang, saya harus terima kenyataan kalau masih berada di Cirebon. Hehehe…

Usai menikmati semangkuk soto ayam hangat, perjalanan dilanjutkan. Sialnya, tak ada bedanya dengan perjalanan sebelumnya. Kondisi jalan padat merayap. Alhasil, perjalanan dari Cirebon-Purwokerto masih mengikuti Siklus 30:15.

Hingga kedua jarum jam berada diangka 12 dan 5, belum sampai juga saya di United States of Purwokerto! Tapi untung, pada pukul tersebut saya sudah berada Ajibarang, salah satu kecamatan di Kabupaten Banyumas. Ini artinya, tinggal setengah jam lagi saya akan tiba di USP. Dan kalau menurut situs wikipedia, jarak antara Banyumas-Purwokerto hanya 18 KM. So, benar, idealnya jarak tempuh tidak akan lebih dari 45 menit dengan kecepatan rata-rata 60-80 km/jam. Tapi ternyata kalkulasi saya salah….

Mobil travel sendiri sempat berhenti sekitar 15 menit di daerah ini karena berganti Pak Sopir. Pak Sopir pertama memutuskan untuk ”lengser keprabon” sementara dan memilih menjadi penumpang. Ia mengaku sudah tidak kuat menahan rasa lelah dan kantuk karena sudah berusaha terus terjaga hampir 20 jam. Dia sendiri sempat berikrar kalau perjalanan kali ini merupakan perjalanan terlama sepanjang karir dia sebagai supir. Jadi, dimaklumi dan patut diapresiasi… Two thumbs for you!

Pelajaran Kedelapan:

”Kenali dan pahami batasan kemampuan Anda, maka Anda akan terselamatkan”.

Usai pergantian sopir, perjalanan kembali dilanjutkan. Sialnya, kemacetan sudah menghadang tak jauh dari tempat pemberhentian terakhir. Kembali, ”drama pertikaian” antara bus dan mobil terulang, dan sukses menyebabkan antrian panjang. Dan hal ini yang semakin membuat dugaan saya semakin melenceng.

Untung, hal ini segera teratasi dengan hadirnya patroli polisi bersepeda motor yang dengan cepatnya datang. Tak kurang dari 15 menit, arus jalan beranjak secara perlahan kembali normal.

Sayang, kehadiran mereka tak sepenuhnya memuaskan hati saya. Lantaran, tak lama setelah kami keluar dari jebakan macet tersebut, Pak Sopir mengumumkan hal yang membuat saya kembali menghela nafas dalam-dalam. Saya dinyatakan sebagai penumpang kedua yang akan diturunkan!

Usut punya usut, hal ini dikarenakan penumpang pertama akan turun di daerah Cikidang. Sementara saya, akan turun di Kecamatan Karangpucung. Cikidang-Karangpucung berkisar 30 menit. Kurang lebih kalau dihitung termasuk pencarian alamat rumah penumpang pertama, perjalanan saya akan memakan waktu sekitar 45 menit.

Sampai sejauh itu, perjalanan lancar dan tidak menemui hambatan. Alhasil, saya tiba di Karangpucung tepat pukul 19:00. Saya pun segera menghentikan stopwatch, dan berakhir pada angka 21:45:31:00 (dua puluh satu jam, empat puluh lima menit, tiga puluh satu detik)!!!!.

Pelajaran Kesembilan:

”Tidak semua yang kita rencanakan dan prediksikan, bisa sesuai dengan kenyataan. Terus berusaha,bersyukur dan bersabarlah…”

Oktober 1, 2009 Posted by | Hidupku | Tinggalkan komentar